Tampilkan postingan dengan label studyinscarlet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label studyinscarlet. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2016

Penelusuran Benang Merah - Kesimpulan

1. Penelusuran Benang Merah (Study in Scarlet)

1.3 Kesimpulan

Kami semua telah diperingatkan untuk menghadiri sidang pada hari Kamis, tapi sewaktu Kamis tiba, kami ternyata tidak perlu lagi memberikan kesaksian. Hakim yang Agung telah mengambil alih kasus ini, dan Jefferson Hope telah dipanggil untuk menghadap sidang pengadilan yang seadil-adilnya. Pada malam ia tertangkap, jantungnya pecah, dan ia ditemukan pagi harinya dalam keadaan tak bernyawa. Ia berbaring di lantai sel dengan senyum damai di wajahnya, seakanakan saat maut menjemputnya, ia mampu melihat kembali kehidupannya dan merasa hidupnya telah berguna, pekerjaannya telah diselesaikan dengan baik.

"Gregson dan Lestrade akan mengamuk karena kematiannya," kata Holmes saat kami membicarakan hal itu pada malam harinya. "Di mana iklan besar mereka sekarang?"

"Mereka kan memang tak berperan dalam penangkapanJefferson Hope," ujarku.

"Apa pun yang kaulakukan di dunia ini tidaklah penting," tukas temanku dengan pahit. "Yang penting, kau bisa membuat orang-orang percaya bahwa itu hasil pekerjaanmu! Tidak apa," lanjut Holmes dengan lebih ceria, setelah diam sejenak. "Aku sudah merasa beruntung dapat menyelidiki kasus ini dan memecahkannya. Ini kasus terbaik yang pernah kutangani. Meskipun sederhana, ada beberapa hal yang sangat instruktif dalam kasus ini."

"Sederhana!" semburku.

"Well, sulit untuk dikatakan lain," kata Holmes, tersenyum melihat keterkejutanku. "Bukti bahwa kasus ini pada dasarnya sederhana adalah, tanpa bantuan apa pun kecuali beberapa deduksi biasa, aku sudah bisa menangkap pelakunya dalam tiga hari."

"Itu benar," kataku.

"Aku pernah menjelaskan bahwa apa yang tidak biasa umumnya lebih merupakan panduan daripada hambatan. Kunci pemecahan masalah seperti ini adalah berpikir mundur. Itu langkah yang sangat berguna dan sangat mudah, tapi jarang dilakukan orang. Dalam kehidupan sehari-hari, berpikir maju memang lebih praktis, karena itu cara berpikir yang lainnya dilupakan. Perbandingan jumlah orang yang biasa berpikir sintetis dan orang yang berpikir analitis adalah lima puluh banding satu."

"Aku tidak mengerti maksudmu," kataku bingung.

"Sudah kuduga. Coba kuperjelas... Sebagian besar orang, jika mendengar rangkaian peristiwa, pasti bisa mengatakan hasil akhirnya. Mereka menyatukan rangkaian kejadian itu dalam benak mereka, dan menarik kesimpulan logis tentang akibat yang mungkin timbul. Tapi jika situasinya terbalik, jika kita memberitahu mereka hasil akhirnya dan meminta mereka merunut kejadian-kejadian sebelumnya, hanya sedikit orang yang mampu melakukannya. Itu yang kumaksud dengan berpikir mundur atau berpikir analitis."

"Aku mengerti sekarang," kataku.

"Nah, dalam kasus Jefferson Hope ini, kita mendapatkan hasil akhirnya dan harus menyimpulkan sendiri semua yang terjadi sebelumnya. Sekarang biar kujelaskan langkah-langkah pemikiranku. Kita mulai dari awal sekali. Seperti kauketahui, aku mendekati rumah tempat pembunuhan itu terjadi dengan berjalan kaki, pikiranku kukosongkan sama sekali dari kesan apa pun. Sewajarnya aku mulai memeriksa dari jalan, dan di sana kudapati bekas jejak kereta yang lewat malam sebelumnya. Aku menyimpulkan bahwa kereta itu taksi dan bukan kereta pribadi berdasarkan sempitnya jarak antara roda. Kereta biasa di London umumnya lebih sempit dibandingkan kereta pribadi orang kaya.

"Ini penemuan pertama. Lalu perlahan-lahan kususuri jalan setapak di taman, yang kebetulan terbuat dari tanah liat, sangat sesuai untuk mencetak jejak. Tidak ragu lagi bagimu yang terlihat hanyalah puluhan jejak yang tumpang tindih, tapi bagi mataku yang terlatih, setiap tanda pada permukaan tanah memiliki arti tersendiri. Tidak ada cabang ilmu detektif yang begitu penting dan begitu disia-siakan selain seni melacak jejak. Untungnya, selama ini aku selalu menekankan bidang itu, dan karena aku banyak berlatih, melacak jejak telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagiku. Kembali ke jejak-jejak di taman. Aku melihat jejak-jejak berat petugas polisi, juga jejak dua orang pria yang lebih dulu melintasi taman. Mudah sekali untuk menentukan bahwa jejakjejak itu berada di sana sebelum yang lainnya, karena di beberapa tempat mereka menghilang tertutup jejak lain di atasnya. Kini aku memiliki mata rantai kedua, yaitu bahwa pengunjung di malam hari itu dua orang jumlahnya, satu sangat jangkung—kuhitung dari lebar langkahnya—dan yang lain berpakaian bagus, menilai jejak sepatu botnya yang kecil serta anggun.

"Begitu memasuki rumah, aku mendaparkan konfirmasi penemuan kedua ini. Pria bersepatu bot bagus tergeletak di depan mataku. Kalau begitu, pria yang jangkung adalah pembunuhnya, jika ini memang pembunuhan. Tidak ada luka pada mayat, tapi ekspresi kengerian di wajahnya meyakinkan diriku kalau ia telah mengetahui nasibnya sebelum tiba. Orang yang tewas akibat serangan jantung atau sebab-sebab alamiah apa pun, tidak pernah menampakkan kengerian pada wajahnya. Saat mengendus bibir mayat itu, aku mendeteksi bau yang agak masam, dan aku menyimpulkan bahwa ia telah dipaksa menelan racun. Dari mana aku tahu ia dipaksa? Sekali dari ekspresinya... ekspresi kebencian dan ketakutan. Jangan membayangkan bahwa ini ide yang sama sekali baru. Meracuni dengan paksa pernah terjadi pada kasus Dolsky di Odessa dan kasus Leturier di Montpellier.

"Sekarang kita tiba pada pertanyaan besarnya. Mengapa? Apa motif pembunuhan ini? Perampokan jelas bukan, karena tidak ada yang diambil. Mungkinkah politik atau wanita? Aku cenderung memilih yang kedua. Pelaku pembunuhan politik biasanya ingin melakukan tugasnya dengan secepat mungkin lalu melarikan diri. Pembunuhan ini, sebaliknya, dilakukan dengan tenang dan terencana, pelakunya meninggalkan jejak di seluruh ruangan, menunjukkan bahwa ia cukup lama berada di sana. Ya, pasti kesalahan pribadi, bukan kesalahan politik, yang mengakibatkan pembalasan yang sedemikian terencana. Sewaktu tulisan di dinding ditemukan, aku semakin yakin dengan pendapatku. Tulisan itu jelas pengalih perhatian. Dan sewaktu cincinnya ditemukan, tak ada keraguan lagi dalam benakku. Aku berani memastikan bahwa sang pembunuh telah menggunakan cincin itu untuk mengingatkan korban akan seorang wanita yang kemungkinan besar telah tewas. Pada saat inilah aku bertanya kepada Gregson, apakah ia telah mengirim telegram ke Cleveland unruk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu Mr. Drebber. Kauingat, Gregson mengatakan tidak.

"Lalu aku memeriksa ruangan, dan apa yang kutemukan di situ mengkonfirmasikan pendapatku tentang tinggi badan pelaku, juga memberiku rincian tambahan, yaitu abu cerutu Trichinopoly dan panjang kuku jarinya. Sebelumnya aku sudah menyimpulkan—karena ridak ada tanda-tanda perkelahian—bahwa darah yang berceceran di lantai menyembur dari hidung pelaku karena emosinya yang terlalu meluap. Jejak darah itu ternyata sesuai dengan jejak kakinya. Jarang sekali ada orang yang sampai berdarah begini karena emosi, kecuali kalau ia berdarah panas, jadi kuperkirakan penjahat ini bertubuh kekar dan berwajah kasar. Kejadian selanjutnya membuktikan kebenaran penilaianku.

"Setelah meninggalkan TKP aku melakukan apa yang enggan dikerjakan Gregson. Kukirim telegram ke Kepolisian Cleveland, membatasi pertanyaanku hanya seputar situasi yang berkaitan dengan pernikahan Enoch Drebber. Jawabannya cukup jelas. Aku diberitahu bahwa Drebber pernah meminta perlindungan polisi karena ia dikejar-kejar oleh pesaing lamanya dalam urusan cinta. Pesaing ini bernama Jefferson Hope, dan orang itu sekarang berada di Eropa. Nah, kini aku telah mengetahui nama si pembunuh; masalahnya hanyalah, bagaimana aku bisa menangkapnya.

"Aku merasa yakin bahwa orang yang berjalan ke dalam rumah bersama Drebber tidak lain adalah kusir keretanya. Tanda-tanda di jalan menunjukkan bahwa kudanya berkeliaran agak jauh, berarti kuda itu tak ada yang menjaga. Kalau begitu, di mana kusirnya? Pasti di dalam rumah, bukan? Lagi pula, tak ada orang yang akan melakukan pembunuhan di depan mata pihak ketiga, yang jelas akan melaporkannya. Dan alasan terakhir... seandainya seseorang ingin menguntit orang lain di London, cara apa yang lebih baik daripada menjadi kusir kereta? Semua pertimbangan itu menyebabkan aku menarik kesimpulan bahwa Jefferson Hope bisa ditemukan di antara para kusir kereta di London.

"Aku percaya Hope masih melanjutkan pekerjaannya, meskipun ia sudah berhasil melaksanakan misinya. Ia pasti tak mau menimbulkan kecurigaan dengan berhenti secara tiba-tiba.

Aku juga yakin ia tidak menggunakan nama palsu. Untuk apa ia mengganti namanya? Di London ini tak seorang pun mengenalnya! Oleh karena itu kuorganisir satuan detektif jalananku, dan mengirim mereka secara sistematis ke setiap pemilik taksi di London hingga mereka menemukan orang yang kuinginkan. Betapa bagusnya keberhasilan mereka, dan betapa cepatnya aku mengambil keuntungan dari hal itu, masih segar dalam ingatanmu. Pembunuhan Stangerson merupakan kejadian yang tidak terduga dan hampir mustahil dicegah. Karena kematiannya, aku mendapatkan pil-pil beracun yang keberadaannya sudah kuduga sebelumnya. Kaulihat, seluruh kejadian ini hanyalah rangkaian-rangkaian logis yang bisa kita telusuri setapak demi setapak."

"Luar biasa!" seruku. "Keberhasilanmu seharusnya diketahui umum. Kau seharusnya menulis buku tentang kasus ini. Kalau kau tidak mau, biar aku yang melakukannya."

"Silakan melakukan apa pun yang kauinginkan, Dokter," jawab Holmes. "Lihat ini!" lanjutnya sambil mengulurkan koran kepadaku.

Koran tersebut Echo terbitan hari ini, dan paragraf yang ditunjuk Holmes mengulas kasus yang sedang kami bicarakan.

"Masyarakat," demikian bunyi artikel tersebut, "kehilangan sensasi besar akibat kematian Hope yang tiba-tiba. Hope adalah tersangka dalam kasus pembunuhan Mr. Enoch Drebber dan Mr. Joseph Srangerson. Rincian kasus ini mungkin tidak akan pernah diketahui, namun kami memperoleh informasi dari sumber yang dapat dipercaya bahwa pembunuhan ini ada hubungannya dengan Mormonisme serta persaingan cinta. Tampaknya kedua korban, di masa mudanya, merupakan anggora Latter Day Saints, dan Hope dikabarkan juga berasal dari Salt Lake City. Kasus ini merupakan contoh nyata tentang kehebatan satuan detektif polisi kita dan pantas menjadi pelajaran bagi semua orang asing. Mereka sebaiknya tidak membawa-bawa masalah ke tanah Inggris; perseteruan di antara mereka hendaknya diselesaikan di negeri sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penangkapan Hope sepenuhnya berkat kerja keras kedua detektif Scotland Yard yang terkenal, yaitu Mr. Lestrade dan Mr. Gregson. Tersangka ditangkap di rumah Mr. Sherlock Holmes, derektif amatir yang cukup berbakat dan memiliki kesempatan besar untuk maju di bawah bimbingan kedua detektif profesional. Dalam waktu dekat Mr. Lestrade dan Mr. Gregson akan memperoleh penghargaan atas prestasi mereka."

"Sudah kukatakan pada waktu kita mulai, bukan?" seru Holmes sambil tertawa. "Inilah hasil Penelusuran Benang Merah kita... penghargaan untuk Lestrade dan Gregson!"

"Tidak apa-apa," hiburku. "Aku sudah mencatat semua faktanya dalam buku harianku, dan kelak aku akan mempublikasikannya. Sementara itu, kau harus puas dengan mengetahui bahwa kaulah yang berhasil, seperti kata orang Romawi...

'Populus me sibilat, at mihi plaudo 
Ipse domi simul ac nummos contemplar in arca."'

TAMAT.


Salam Sherlockian.

Penelusuran Benang Merah - Bag II Bab VI - Lanjutan Catatan Harian Dr. John Watson

1. Penelusuran Benang Merah (Study in Scarlet)

1.2 Bagian II – Tanah Orang Suci


1.2.6 Bab V – Lanjutan Catatan Harian Dr. John Watson

Perlawanan hebat yang dilakukan tawanan kami ketika hendak ditangkap tampaknya tidak serta-merta membuat sikapnya juga brutal terhadap kami. Setelah menyadari dirinya tidak berdaya, pria itu malah tersenyum sopan dan mengatakan semoga tak ada yang terluka di antara kami.

"Kurasa kau akan membawaku ke kantor polisi," katanya kepada Sherlock Holmes. "Keretaku ada di bawah. Kalau kau melepaskan ikatan kakiku, aku bisa berjalan sendiri. Tubuhku tidak seringan dulu."

Gregson dan Lestrade bertukar pandang, seakan-akan mereka menganggap permintaan ini sangat lancang, tapi Holmes seketika mempercayai kata-kata tawanan tersebut dan melepaskan handuk yang mengikat pergelangan kakinya. Pria itu lalu bangkit dan meregangkan kaki, sepertinya ia ingin memastikan bahwa keduanya telah bebas lagi. Aku memperhatikannya dan berpikir, jarang sekali aku melihat pria sekekar ini. Wajahnya yang cokelat akibat terbakar matahari memancarkan ekspresi kebulatan tekad serta semangat yang sama tangguhnya dengan kekuatan fisiknya.

"Kalau ada lowongan untuk kepala polisi, kurasa kau orang yang tepat untuk mengisinya," ujar Jefferson Hope, menatap Holmes dengan kekaguman yang tidak ditutup-tutupi. "Caramu mengikuti jejakku benar-benar hebat. Sangat hati-hati."

"Sebaiknya kalian ikut denganku," kata Holmes kepada kedua detektif.

"Aku bisa mengemudi," ujar Lestrade.

"Bagus! Gregson bisa menemaniku di dalam kereta. Kau juga, Dokter. Kau berminat pada kasus ini, dan mungkin sebaiknya kau terus mengikutinya bersama kami."

Dengan senang hati kuterima tawaran temanku, dan kami semua turun bersama-sama. Tawanan kami tidak berusaha melarikan diri, dengan tenang ia melangkah ke dalam keretanya dan kami mengikutinya. Lestrade naik ke tempat kusir, melecut kuda-kuda, dan membawa kami ke tujuan dalam waktu singkat. Di kantor polisi kami diantar ke sebuah ruangan kecil, dan seorang inspektur mencatat nama serta alamat pria yang kami kenai tuduhan pembunuhan tersebut.

"Tersangka akan dihadapkan ke pengadilan dalam waktu seminggu," kata inspektur berwajah kaku yang menjalankan tugasnya bagaikan mesin itu. "Nah, Mr. Jefferson Hope, ada yang ingin Anda katakan? Harus saya peringatkan bahwa kata-kata Anda akan dicatat, dan mungkin digunakan untuk memberatkan tuduhan terhadap Anda."

"Ada banyak yang ingin kukatakan," ujar Hope perlahan-lahan. "Aku ingin menceritakan semuanya kepada kalian."

"Apa tidak lebih baik menunggu sidang?" tanya Inspektur

"Aku mungkin tidak akan pernah disidang," jawab Hope. "Kalian tidak perlu seterkejut itu. Aku tidak berpikir untuk bunuh diri. Kau seorang dokter?" Ia mengalihkan tatapannya yang tajam kepadaku saat mengajukan pertanyaan itu.

"Ya, benar," jawabku.

"Letakkan tanganmu di sini," katanya sambil tersenyum, memberi isyarat dengan tangan terborgol ke dadanya.

Kupenuhi permintaannya, dan seketika menyadari detak serta keributan hebat yang berlangsung di dalamnya. Dinding-dinding dadanya bagai bergetar dan terguncang, sebagaimana bangunan rapuh yang di dalamnya terdapat mesin yang kuat. Dalam kesunyian ruangan aku bisa mendengar dengungan tertahan yang berasal dari sumber yang sama.

"Astaga!" seruku. "Kau menderita aneurisme aorta!"

"Itu istilah kedokterannya," kata Hope tenang. "Minggu lalu aku memeriksakan diri, dan dokter memberitahukan bahwa jantungku akan pecah dalam beberapa hari. Selama bertahun-tahun ini kondisinya semakin memburuk. Aku terkena penyakit ini karena terlalu lama berada di udara terbuka dan kekurangan makan saat berkeliaran di Pegunungan Salt Lake. Tapi aku sudah menyelesaikan pekerjaanku, dan aku tidak peduli seberapa cepat aku mati. Hanya, aku ingin orangorang tahu apa yang telah kulakukan. Aku tidak ingin mereka mengingatku sebagai pembunuh biasa."

Inspektur dan kedua detektif segera mendiskusikan kemungkinan untuk mengizinkan Hope menceritakan kisahnya.

"Menurut Anda, Dokter, apa kondisi tersangka membahayakan?" tanya Inspektur.

"Hampir pasti begitu," jawabku.

"Kalau begitu, jelas sudah menjadi tugas kami untuk mendengarkan pernyataan tersangka, demi tegaknya keadilan," ujar Inspektur. "Sir, silakan menceritakan kisah Anda, yang sekali lagi saya peringatkan, akan dicatat."

"Aku minta izin untuk duduk," kata Hope sambil menjatuhkan diri ke kursi. "Penyakit ini menyebabkan aku mudah lelah, apalagi setengah jam yang lalu kami baru bergumul mati-matian. Aku sudah mendekati liang kubur, untuk apa lagi aku membohongi kalian? Percayalah bahwa setiap kata yang kuucapkan merupakan kebenaran, dan bagaimana kalian menggunakan kesaksian ini, sama sekali bukan masalah bagiku."

Jefferson Hope menyandar ke kursinya dan memulai ceritanya. Ia berbicara dengan tenang dan teratur, seakan-akan kejadian yang diceritakannya adalah hal yang umum terjadi. Lestrade mencatat setiap kata yang diucapkan Hope, dan aku mengutipnya untuk para pembaca.

"Aku tak perlu menjelaskan panjang-lebar kenapa aku membenci kedua pria itu," ujar Hope. "Cukuplah kalau kalian mengetahui bahwa mereka bertanggung jawab atas kematian dua orang—ayah dan putrinya—dan bahwa mereka, oleh karena itu, sudah mengakhiri hidup mereka sendiri. Setelah sekian lama berlalu sejak kejahatan yang mereka lakukan, mustahil bagiku untuk mengalahkan mereka di pengadilan mana pun. Tapi aku tahu mereka bersalah, dan aku telah membulatkan tekad untuk menjadi hakim, juri, dan algojo sekaligus. Kalian pasti juga akan berbuat begitu, kalau ada keberanian dalam diri kalian, dan kalian menjadi diriku.

"Gadis yang kubicarakan seharusnya menikah denganku dua puluh tahun yang lalu. Namun dia dipaksa untuk menikah dengan Drebber, dan mati merana karenanya. Aku melepaskan cincin kawin dari jarinya setelah dia meninggal, dan bersumpah cincin itu akan menjadi benda terakhir yang dilihat Drebber sebelum mati. Bajingan itu harus tahu untuk apa dia dihukum, dan dia harus mengingat kejahatannya saat mengembuskan napas terakhirnya. Kubawa cincin itu ke mana-mana, dan mengikuti Drebber serta rekannya di dua benua hingga berhasil menyusul mereka. Mereka mengira telah berhasil membuatku kelelahan dan menghentikan perburuanku, tapi mereka keliru sama sekali. Jika aku meninggal besok, dan besar kemungkinannya begitu, aku akan meninggal dengan tenang sebab tugasku di dunia sudah selesai. Kedua orang itu telah mati di tanganku. Tak ada lagi yang kuinginkan atau kuharapkan dalam hidup.

"Mereka kaya sedang aku miskin, jadi bukan hal yang mudah bagiku untuk mengikuti mereka. Sewaktu tiba di London aku hampir tidak memiliki uang lagi, sehingga aku harus bekerja untuk menghidupi diriku. Mengemudikan kereta dan berkuda bagiku sama wajarnya seperti berjalan kaki, maka aku pun melamar ke kantor pemilik taksi dan segera mendapat pekerjaan. Aku harus menyetorkan sejumlah uang setiap minggu kepada pemilik kereta, dan sisa perolehanku tidak banyak, tapi aku mampu bertahan hidup. Tugas yang paling sulit adalah mempelajari jalan-jalan yang harus kulewati, karena dan semua labirin yang pernah diciptakan, menurutku kota ini yang paling membingungkan. Tapi aku selalu membawa peta, dan sesudah mengetahui lokasi hotel-hotel serta stasiun-stasiun utama, aku bisa bekerja dengan cukup baik.

"Aku memerlukan beberapa waktu sebelum menemukan tempat tinggal kedua buruanku, tapi akhirnya aku mengetahui bahwa mereka tinggal di rumah kos di Camberwell. Begitu mendapatkan alamat itu, yakinlah aku bahwa mereka telah jatuh ke tanganku. Aku sudah memelihara janggut, dan tidak mungkin mereka bisa mengenaliku. Aku akan mengikuti mereka hingga mendapat kesempatan. Aku telah membulatkan tekad untuk tidak membiarkan mereka lolos lagi.

"Ke mana pun mereka pergi di London, aku selalu mengikuti. Terkadang aku membuntuti mereka dengan kereta, di lain waktu dengan berjalan kaki. Naik kereta sebenarnya lebih baik, karena dengan begitu aku tak mungkin kehilangan jejak mereka. Aku hanya bisa menarik taksi pada pagi-pagi sekali atau larut malam, jadi aku mulai menunggak kepada majikanku. Tapi aku tidak memusingkan hal itu sebab yang terpenting bagiku adalah menghukum kedua penjahat itu.

"Tapi mereka sangat cerdik. Mereka pasti sudah memperhitungkan kemungkinan akan diikuti, sehingga mereka tidak pernah keluar seorang diri, dan tidak pernah di malam hari. Selama dua minggu aku mengikuti mereka, tak sekali pun kulihat mereka berpisah. Drebber sendiri lebih sering mabuk daripada sadar, tapi Stangerson selalu waspada. Aku terus mengawasi mereka, namun belum juga mendapat kesempatan. Meskipun demikian, aku tidak patah semangat. Aku yakin waktunya hampir tiba. Satu-satunya ketakutanku adalah bahwa jantungku akan pecah sebelum tugasku selesai.

"Akhirnya, suatu malam ketika aku tengah menyusuri Torquay Terrace, kulihat sebuah taksi berhenti di depan rumah kos mereka. Koper-koper dikeluarkan dan beberapa saat kemudian mereka muncul, lalu pergi dengan taksi itu. Aku cepat-cepat membuntuti, khawatir mereka akan berpindah tempat tinggal. Mereka ternyata turun di Stasiun Euston, dan kudengar mereka menanyakan kereta ke Liverpool. Petugasnya menjawab bahwa kereta itu sudah berangkat, dan kereta berikutnya baru akan berangkat beberapa jam lagi. Stangerson tampak kesal, sebaliknya Drebber justru kelihatan senang. Aku berada begitu dekat dengan mereka dalam keramaian sehingga bisa mendengar setiap kata yang mereka ucapkan. Drebber mengatakan, ada urusan yang harus diselesaikannya sendiri, dan ia meminta akan kembali. Stangerson menolak, dan mengingatkan bahwa mereka sudah berjanji untuk selalu bersama. Drebber menjawab bahwa urusannya sangat pribadi, dan ia harus pergi sendiri. Aku tidak bisa mendengar balasan Stangerson, tapi Drebber lalu meledak marah dan memaki-maki, mengingatkan Stangerson bahwa ia hanyalah pelayan bayaran dan tidak berhak mengatur dirinya. Mendengar itu sang sekretaris menyerah, ia bersedia menunggu di stasiun, dan seandainya mereka tertinggal kereta berikutnya, ia akan menunggu Drebber di Halliday's Private Hotel. Drebber menjawab bahwa ia akan ada di peron sebelum pukul sebelas, kemudian ia meninggalkan stasiun.

"Saat yang telah lama kutunggu akhirnya tiba. Musuhku berada dalam kekuasaanku. Tapi aku tidak bertindak tergesa-gesa. Rencanaku telah tersusun. Tidak ada kepuasan dalam membalas dendam, jika sasaran kita tidak menyadari siapa yang membalas dendam padanya dan kenapa ia mendapat pembalasan. Kebetulan, beberapa hari sebelumnya orang yang bertugas mengawasi rumah-rumah kosong di Brixton Road menjatuhkan kunci salah satunya di keretaku. Kunci itu telah diminta kembali pada malam harinya, tapi aku sempat membuat duplikatnya. Dengan cara itu aku mendapat akses ke rumah kosong tersebut, tempat aku bisa menjalankan rencanaku dengan tenang. Masalahnya adalah bagaimana cara membawa Drebber ke rumah itu.

"Nah, aku mengikuti Drebber yang berjalan kaki menyusuri jalan lalu masuk ke kedai minuman. Dari sana ia pergi ke kedai lain dan tinggal selama sekitar setengah jam. Sewaktu keluar, ia terhuyung-huyung dan jelas sangat mabuk. Ada sebuah kereta tepat di depanku, dan Drebber memanggilnya. Kuikuti kereta itu rapat-rapat; kami melaju melintasi Jembatan Waterloo dan jalanjalan lain hingga tiba di rumah kos Drebber. Aku tidak bisa membayangkan apa maksud Drebber kembali ke sana, tapi aku tetap mengikutinya dan berhenti sekitar seratus meter dari rumah tersebut. Drebber masuk ke rumah, dan keretanya melaju pergi. Tolong ambilkan air. Mulutku rasanya kering berbicara terus-menerus."

Kuulurkan gelasnya dan ia menenggak habis isinya.

"Hm, sekarang lebih enak," katanya. "Aku menunggu sekitar seperempat jam, lalu tiba-tiba kudengar keributan seperti ada orang berkelahi di dalam rumah. Kemudian pintu terbuka dan dua pria muncul, salah satunya Drebber, sedangkan yang seorang lagi belum pernah kulihat. Pemuda ini mencengkeram kerah Drebber, dan sewaktu mereka tiba di tangga depan ia mendorong Drebber serta menendangnya, sehingga Drebber terhuyung-huyung ke seberang jalan. 'Anjing!' seru pemuda itu sambil mengacung-acungkan tongkat. 'Akan kuhajar kau karena menghina gadis baik-baik!' Ia begitu murka sehingga kukira Drebber akan dipukulnya dengan tongkat, tapi Drebber bergegas kabur. Ia berlari ke tikungan jalan dan melihat keretaku. 'Antar aku ke Halliday's Private Hotel,' katanya sambil melompat masuk.

"Aku sangat gembira karena masalahku terpecahkan. Drebber sudah berada dalam keretaku! Kereta kujalankan perlahan-lahan, sambil aku mempertimbangkan tindakan terbaik yang bisa kulakukan. Apakah sebaiknya aku membawanya ke rumah kosong sebagaimana rencana semula, atau ke pedalaman dan melakukan pembicaraan terakhir kami di salah satu jalan yang sepi? Aku hampir saja melakukan yang terakhir, sewaktu Drebber tiba-tiba minta diantar ke kedai minum. Ia kembali bermabuk-mabukan hingga kedainya tutup. Sewaktu keluar, Drebber nyaris sudah tak berdaya sehingga yakinlah aku bahwa dia tak mungkin lepas dari tanganku.

"Jangan membayangkan aku berniat membunuhnya dengan darah dingin, walau hal itu layak baginya. Aku telah lama memutuskan untuk memberinya kesempatan hidup, jika ia berani menerima tantanganku. Begini, di antara sekian banyak pekerjaan yang pernah kulakukan sewaktu berkelana di Amerika, salah satunya adalah menjadi tukang sapu laboratorium di York Gollege. Suatu hari dosennya mengajar tentang racun, dan ia menunjukkan sejumlah alkaloid - kepada para mahasiswa. Racun tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan di Amerika Selatan, dan begitu kuat sehingga sebutir yang paling kecil pun akan mendatangkan kematian seketika. Kuperhatikan di mana sang dosen menyimpan botolnya, dan sesudah mereka semua pergi, kuambil sedikit isinya. Aku cukup pandai mencampur bahan kimia, jadi kuolah alkaloid ini menjadi pil-pil kecil yang mudah larut. Setiap pil kusimpan dalam kotak bersama pil lain yang mirip tapi tidak beracun. Pada waktu itu aku mengambil keputusan bahwa jika saatnya tiba, aku akan memberi Drebber dan Stangerson kesempatan memilih. Mereka masing-masing boleh mengambil sebutir pil dari setiap kotak, sementara aku mengambil sisanya. Pil-pil itu cukup mematikan dan tidak seribut letusan pistol yang diredam saputangan. Setelah bertahun-tahun membawa pil-pil itu ke mana-mana, kini tiba saatnya mereka kugunakan.

"Jam sudah mendekati pukul satu, dan hujan turun deras sekali. Sekalipun di luar keadaannya buruk, dalam hati aku merasa gembira—begitu gembira sehingga aku ingin berteriakteriak. Kalau ada di antara kalian yang pernah menginginkan sesuatu, dan harus menunggu dua puluh tahun untuk mendapatkannya, kalian pasti mengerti perasaanku. Aku menyulut cerutu dan mengisapnya untuk menenangkan sarafku, tapi tanganku gemetar dan pelipisku berdenyut-denyut saking tegangnya. Saat keretaku melaju, aku bisa melihat John Ferrier tua dan Lucy yang manis mcmandangku dari kegelapan. Mereka tersenyum padaku... aku melihatnya dengan jelas seperti aku melihat kalian semua di ruangan ini. Sepanjang jalan mereka ada di depanku, masing-masing di kedua sisi kuda, hingga aku berhenti di depan rumah kosong di Brixton Road itu.

"Tidak terlihat seorang pun, juga tidak terdengar suara apa pun kecuali tetesan hujan. Sewaktu menjenguk ke dalam kereta, kulihat Drebber sedang tidur meringkuk. Kuguncangkan lengannya, 'Sudah tiba,' kataku. 'Baik,' katanya.

"Kurasa ia mengira kami sudah tiba di hotel yang tadi disebutkannya, karena ia turun tanpa mengatakan apa-apa, dan mengikutiku melintasi taman. Aku harus memapahnya karena ia mabuk berat. Sewaktu kami tiba di pintu rumah, kubuka pintunya dan kubimbing dia masuk ke ruang depan. Percayalah, sepanjang jalan, John Ferrier dan putrinya berjalan di depan kami.

"'Gelap sekali,' kata Drebber sambil mengentakkan kaki.

"'Sebentar lagi terang,' kataku, sambil menyulut korek dan menyalakan lilin yang kubawa. 'Nah, Enoch Drebber,' lanjutku, berpaling kepadanya dan mengacungkan lilin ke depan wajahku, 'siapa aku?'

"la menatapku dengan mata berkaca-kaca karena mabuk, lalu kulihat kengerian memancar di sana. Wajahnya berkedut-kedut ketika ia mengenali diriku. Ia terhuyung-huyung mundur, keringat dingin mengalir di keningnya, gigigiginya bergemeletukan. Melihat itu aku menyandar ke pintu dan tertawa terbahak-bahak. Sejak dulu aku tahu pembalasan akan manis rasanya, tapi aku tidak pernah mengharapkan kepuasan jiwa seperti yang menguasaiku pada saat itu.

"'Kau anjing!' kataku. 'Aku memburumu dari Salt Lake City sampai ke St. Petersburg, dan kau selalu berhasil meloloskan diri. Sekarang akhirnya pelarianmu berakhir, karena salah satu dari kita —entah kau atau aku—besok tidak akan melihat matahari lagi,' Ia menyurut semakin jauh saat aku berbicara, ekspresinya menunjukkan bahwa ia menganggapku gila. Mungkin aku memang sudah gila. Denyut di pelipisku rasanya seperti hantaman palu godam, dan aku yakin akan terserang ayan kalau saja darah tidak menyembur keluar dari hidungku dan melegakan diriku.

"'Sekarang apa pendapatmu tentang Lucy Ferrier?' seruku, mengunci pintu dan menggoyang-goyangkan anak kunci di depan wajahnya. 'Hukuman memang lambat datangnya, tapi akhirnya tetap saja kau menjalaninya.' Kulihat bibir pengecutnya gemetar saat aku berbicara. Ia pasti ingin mengemis-emis untuk diampuni, tapi ia tahu benar tindakan itu tidak ada gunanya. 

"'Kau akan... membunuhku?' tanyanya terbata-bata.

"'Tidak akan ada pembunuhan!' jawabku. 'Siapa yang sudi membunuh anjing gila? Apakah kau berbelas kasihan kepada kekasihku yang malang, sewaktu kau menyeretnya dari ayahnya yang dibantai dan memaksanya menjadi anggota haremmu yang terkutuk?'

"'Bukan aku yang membunuh ayahnya!' serunya.

"'Tapi kau yang menghancurkan hatinya!' teriakku, sambil menyodorkan kotak pil ke hadapannya. 'Biar Tuhan yang menjadi hakim di antara kita. Pilih salah satu dan makanlah. Yang satu adalah kematian dan yang lain kehidupan. Akan kuambil apa yang tidak kaupilih. Kita lihat apakah memang ada keadilan di dunia ini, atau manusia hidup karena kebetulan belaka.'

"Ia meringkuk sambil menjerit-jerit liar dan meminta-minta pengampunan, tapi kucabut pisauku dan kutempelkan di lehernya hingga ia mematuhi perintahku. Ia mengambil sebutir pil dan menelannya. Aku menelan pil yang lain, lalu kami berdiri berhadapan tanpa berkata-kata selama satu menit, menunggu siapa yang hidup dan siapa yang mati. Bagaimana aku bisa melupakan ekspresi wajahnya sewaktu tanda-tanda pertama memberitahunya bahwa ia telah keracunan? Aku tertawa sewaktu melihatnya, dan mengacungkan cincin kawin Lucy di depan matanya. Hanya sejenak, karena reaksi alkaloid sangat cepat. Ia mengernyit kesakitan, mengulurkan tangannya, terhuyung-huyung, lalu jatuh berdebum ke lantai. Aku membaliknya dengan kakiku dan menempelkan tanganku di dadanya. Tidak ada gerakan. Ia sudah tewas!

"Darah terus mengalir dari hidungku, tapi aku tidak memedulikannya. Entah mengapa, aku lalu terpikir untuk menulis di dinding dengan darahku. Mungkin aku hanya iseng; aku ingin bermain-main dengan polisi karena perasaanku sedang sangat gembira. Aku teringat kejadian di New York, ketika mayat seorang Jerman ditemukan dengan kata RACHE ditulis di atasnya. Saat itu koran-koran ramai berdebat bahwa pembunuhan ini pasti melibatkan organisasi rahasia. Kurasa apa yang membingungkan orang New York pasti juga membingungkan orang London, jadi kucelupkan jariku ke dalam darahku sendiri dan menuliskan kata RACHE di dinding. Lalu aku menuju keretaku dan pergi dari situ. Aku telah melaju beberapa lama sewaktu kumasukkan tangan ke saku, tempat aku biasa menyimpan cincin Lucy, dan mendapati cincin itu tidak ada. Mengira aku sudah menjatuhkannya sewaktu membungkuk di atas mayat Drebber, aku berputar balik, dan meninggalkan keretaku di jalan samping. Kuberanikan diri untuk kembali ke rumah itu... karena aku lebih baik menghadapi apa pun daripada kehilangan cincin Lucy. Sewaktu tiba di taman, aku bertemu dengan seorang polisi yang baru datang dari rumah itu, namun aku berhasil menghapus kecurigaannya dengan berpura-pura mabuk.

"Begitulah bagaimana Enoch Drebber menemui ajalnya. Kini aku tinggal melakukan hal yang sama terhadap Stangerson, agar utang nyawanya kepada John Ferrier terbayar. Aku sudah tahu bahwa Stangerson menginap di Halliday's Private Hotel, maka aku berkeliaran di dekat tempat itu sepanjang hari. Tapi Stangerson tidak keluar-keluar. Rupanya ia menduga telah terjadi sesuatu sewaktu Drebber tidak muncul. Si Stangerson itu cerdik dan selalu waspada, tapi kalau ia mengira bisa menghindariku dengan tetap berada di dalam, ia keliru. Tak lama kemudian aku sudah mengetahui jendela kamar tidurnya, dan pagi-pagi keesokan harinya aku memasuki kamar itu dengan bantuan tangga yang tergeletak di jalan di belakang hotel. Aku membangunkan Stangerson dan memberirahunya bahwa sudah tiba saatnya ia mempertanggungjawabkan nyawa yang dicabutnya dulu. Kujelaskan kematian Drebber kepadanya, dan kuberikan pilihan yang sama dengan pil-pil beracun itu. Bukannya mengambil kesempatan yang kutawarkan, ia justru melompat dari ranjang dan berusaha mencekik leherku. Untuk mempertahankan diri kutusuk dia di janrungnya. Pada akhirnya sama saja, karena Yang Mahakuasa tidak akan membiarkan tangannya yang bersalah untuk mengambil pil yang tidak beracun.

"Masih ada sedikit lagi yang harus kukatakan, dan sebaiknya kuungkapkan sekarang, karena kurasa aku sudah sekarat. Aku terus melakukan pekerjaanku sebagai kusir kereta selama satu-dua hari, dengan harapan aku bisa mengumpulkan uang cukup banyak untuk biaya perjalanan ke Amerika. Aku sedang berdiri di halaman sewaktu seorang bocah lusuh mcnanyakan apakah ada kusir yang bernama Jefferson Hope, katanya ia dipanggil seseorang di Baker Street 221B. Aku berangkat tanpa merasa curiga, dan tahu-tahu, tuan muda ini memborgol tanganku. Begitulah seluruh kisahku, Tuan-tuan. Kalian boleh menganggapku sebagai pembunuh, tapi aku tetap yakin bahwa diriku hanyalah penegak keadilan, sama seperti kalian."

Begitu menegangkan kisah pria tersebut, dan sikapnya begitu mengesankan, sehingga kami semua terdiam mengikuri penururannya. Bahkan para detektif profesional yang sudah biasa menghadapi berbagai kasus kejahatan, tampak sangat tertarik dengan cerita pria ini. Sesudah ia selesai, kami masih membisu selama beberapa menit. Kesunyian hanya dipecahkan oleh goresan pensil Lestrade yang menyelesaikan catatannya.

"Hanya ada satu hal yang ingin kutanyakan," kata Holmes pada akhirnya. "Siapa temanmu yang datang mengambil cincin yang kuiklankan?"

Jefferson Hope mengedipkan mata ke arah temanku dengan jenaka. "Aku bisa menceritakan rahasiaku sendiri, tapi aku tidak mau menyulitkan orang lain. Aku melihat iklanmu, dan kupikir ini mungkin jebakan, atau mungkin saja memang cincin yang kuinginkan. Temanku mengajukan diri untuk memeriksanya. Kau harus mengakui bahwa dia melakukannya dengan sangat cerdik."

"Memang," aku Holmes jujur.

"Nah, Tuan-tuan," kata Inspektur dengan serius, "peraruran harus diparuhi. Pada hari Kamis tersangka akan disidangkan, dan kehadiran kalian diperlukan. Sampai saat itu, saya yang bertanggung jawab atas dirinya." Ia membunyikan bel sambil berbicara, dan Jefferson Hope dibawa pergi oleh dua orang sipir. Aku dan Holmes pun keluar dari kantor polisi, lalu naik taksi ke Baker Street.


Salam Sherlockian.

Penelusuran Benang Merah - Bag II Bab V - Malaikat Pembalas

1. Penelusuran Benang Merah (Study in Scarlet)

1.2 Bagian II – Tanah Orang Suci


1.2.5 Bab V – Malaiat Pembalas

Sepanjang malam mereka berjalan melewati ngarai-ngarai yang berliku dan jalan-jalan setapak yang dipenuhi bebatuan. Lebih dari sekali mereka tersesat, tapi pengetahuan Hope yang mendalam tentang pegunungan memungkinkan mereka untuk menemukan jalur yang benar. Sewaktu fajar merekah, pemandangan yang indah sekaligus buas membentang di depan mereka. Ke mana pun mereka menatap, tampak puncak-puncak yang tertutup salju, saling mengintip dari bahu yang lain hingga ke kaki langit. Begitu curam lereng-lerengnya sehingga sesemakan dan pinus bagai menjuntai pada pucuknya, dan hanya perlu diembus angin untuk roboh menimpa mereka. Kekhawatiran tersebur bukan sepenuhnya ilusi, karena lembah gersang itu dipenuhi pepohonan dan bongkahan-bongkahan batu yang telah jatuh karena angin. Bahkan saat mereka melintas, sebongkah batu besar bergulir menggemuruh ke sungai kering dan mengejutkan kuda-kuda mereka yang kelelahan.

Matahari perlahan-lahan menanjak di kaki langit timur, puncak-puncak pegunungan besar itu "menyala" satu demi satu hingga semuanya tampak kemilau. Pemandangan yang mengagumkan itu menambah semangat ketiga pelarian dan menimbulkan tenaga baru. Di sebuah sungai yang mengalir deras mereka berhenti dan memberi kuda-kuda mereka kesempatan minum, sementara mereka sendiri menyantap sarapan dengan tergesa-gesa. Lucy dan ayahnya ingin beristirahat lebih lama, tapi Hope bersikap tegas.

"Mereka pasti telah melacak jejak kita sekarang," katanya. "Segalanya tergantung pada kecepatan kita. Begitu tiba dengan selamat di Carson, kita boleh beristirahat sepanjang sisa hidup kita."

Sepanjang hari itu mereka berjuang keras melintasi celah-celah di pegunungan, dan saat malam turun mereka memperhitungkan telah berada sekitar lima puluh kilometer jauhnya dari musuh-musuh mereka. Malam itu mereka memilih tempat istirahat di dasar sebuah tonjolan tebing dan menikmati tidur selama beberapa jam. Sebelum fajar mereka telah terjaga dan melanjutkan perjalanan. Mereka tidak melihat tanda-tanda ada orang mengejar mereka, dan Jefferson Hope mulai menganggap bahwa mereka telah berada cukup jauh dari jangkauan organisasi menakutkan yang berusaha mereka hindari. Hope sama sekali tidak menyangka bahwa pengejar mereka sebenarnya begitu dekat dan sebentar lagi mereka akan dihancurkan.

Sekitar tengah hari pada hari kedua itu, bekal mereka mulai habis. Tapi hal ini tidak terklu mencemaskan Hope karena ia bisa memburu hewan-hewan pegunungan untuk makanan mereka. Setelah memilih sebuah ceruk sebagai tempat berlindung, ia menumpukkan sejumlah dahan kering dan membuat api unggun. Mereka sekarang hampir 1.500 meter di atas permukaan laut, dan udaranya dingin menggigit. Hope mengikat kuda-kudanya, mengucapkan selamat berpisah kepada Lucy, lalu menyandang senapannya untuk memburu binatang apa pun yang mungkin ditemuinya. Saat berpaling ke belakang, ia melihat pria tua dan wanita muda tersebut tengah berjongkok di depan api unggun, sementara ketiga hewan berdiri tidak bergerak di latar belakang. Lalu bebatuan menghalangi pandangannya.

Hope berjalan sejauh tiga kilometer melintasi sungai kering demi sungai kering tanpa mendapatkan buruan. Tapi dari tanda-tanda di kulit pohon dan lainnya, ia memperkirakan ada sejumlah beruang di daerah itu. Dua-tiga jam ia mencari tanpa hasil, dan mulai berpikir untuk kembali saja sewaktu ia melihat sesuatu yang membangkitkan kegembiraannya. Di ujung sebongkah batu yang mencuat, sekitar seratus meter di atasnya, berdiri seekor makhluk mirip domba yang bersenjatakan sepasang tanduk raksasa. Si Tanduk Besar mungkin tengah menjaga kawanan yang tidak terlihat oleh Hope, tapi untungnya hewan tersebut memandang ke arah lain dan tidak menyadari kehadirannya. Sambil menelungkup Hope menumpukan senapannya ke sebongkah batu, lalu membidik buruannya dan menarik picu. Si Tanduk Besar melompat ke udara, terhuyunghuyung sejenak di tepi batu, lalu jatuh ke lembah di bawahnya.

Hewan tersebut terlalu besar dan berat untuk diangkat, jadi Hope hanya memotong pangkal paha dan sebagian panggulnya. Dengan me-manggul hasil buruan itu, ia bergegas menyusuri kembali jalan yang ditempuhnya karena malam telah turun. Ia baru saja mulai sewaktu menyadari kesulitan yang menghadangnya. Saking bersemangatnya berburu, dirinya ternyata telah berkeliaran jauh melewati sungai kering yang dikenalinya, dan tidak mudah untuk menemukan jalan yang tadi diambilnya. Lembah tempat ia berada terpecah-pecah menjadi sekian banyak jalur, yang begitu mirip satu sama lain sehingga mustahil untuk membedakannya. Ia mengikuti salah satunya hingga sekitar satu setengah kilometer, lalu menemukan sungai yang belum pernah dilihatnya. Yakin bahwa ia telah salah memilih jalan, Hope mencoba jalur lain, tapi hasilnya sama. Hari sudah hampir gelap ketika akhirnya tiba di celah yang dikenalinya. Bahkan pada waktu itu, bukan masalah yang mudah untuk menyusuri jalur yang benar, karena bulan belum terbit dan tebing-tebing tinggi di kedua sisi semakin mempersulir pandangan. Dengan dibebani buruannya, dan kelelahan karena usahanya, Hope terhuyung-huyung maju, mempertahankan semangatnya dengan pikiran bahwa setiap langkah membawanya semakin dekat dengan Lucy, dan bahwa ia membawa cukup banyak bahan makanan untuk pasokan mereka selama sisa perjalanan.

Hope sekarang tiba di mulut ceruk tempat ia meninggalkan Lucy dan ayahnya. Dalam kegelapan ia masih bisa mengenali sosok tebing yang membatasinya. Mereka pasti sudah menunggu dengan gelisah, pikirnya, karena ia telah pergi hampir lima jam. Dalam kegembiraan dan kelegaan, ia menangkupkan tangan ke mulut dan meneriakkan "halooo" sebagai tanda kedatangannya. Lalu ia diam sejenak menunggu jawaban. Tapi tidak ada yang terdengar kecuali teriakannya sendiri, yang memantul pada sungai kering dan kembali ke telinganya berulang-ulang. Sekali lagi ia berteriak, lebih keras dari sebelumnya. Dan sekali lagi pula tidak terdengar balasan dari kedua orang yang ditinggalkannya beberapa waktu yang lalu. Ketakutan yang samar merayapinya, dan ia bergegas maju dalam kepanikan, makanan yang diperoleh dengan susah payah dijatuhkannya begitu saja.

Sewaktu berbelok di tikungan, Hope melihat bekas api unggun. Masih ada tumpukan bara di sana, tapi jelas api tersebut tidak dijaga sejak kepergiannya. Kesunyian memenuhi sekitarnya. Dengan ketakutan yang semakin nyata, ia bergegas mendekat. Tidak terlihat tanda-tanda makhluk hidup di tempat itu; hewan-hewan, Ferrier, putrinya, semua lenyap. Jelas telah terjadi bencana tibatiba selama kepergiannya—bencana yang menghantam mereka semua tapi sama sekali tidak meninggalkan jejak.

Kebingungan dan tertegun oleh pukulan ini, Jefferson Hope merasakan kepalanya berputarputar, dan ia terpaksa menyandar ke senapannya agar tidak jatuh. Tapi pada dasarnya ia orang yang terbiasa beraksi, dan dengan cepat pulih dari ketidakberdayaannya. Setelah mengambil sebatang kayu yang separo terbakar dari tumpukan bara, ia mengobarkan api unggunnya lagi, dan dengan bantuan api tersebut memeriksa perkemahan kecil mereka. Tanah dipenuhi jejak-jejak kaki kuda, menunjukkan adanya segerombolan besar penunggang kuda yang telah mengalahkan kedua pelarian, dan jejak-jejak mereka menunjukkan bahwa sesudahnya mereka kembali ke Salt Lake City. Apa mereka membawa Ferrier dan Lucy? Hope hampir berhasil meyakinkan dirinya bahwa pasti begitu yang mereka lakukan, sewaktu pandangannya jatuh pada sesuatu yang langsung menyebabkan seluruh tubuhnya bergetar.

Beberapa meter dari perkemahan itu terdapat tumpukan tanah merah yang sebelumnya jelas tidak ada. Tak diragukan lagi bahwa itu sebuah makam baru. Hope mendekat dan melihat ada sebatang dahan ditancapkan pada makam itu, dengan sehelai kertas terjepit di sela-selanya. Tulisan di kertas tersebut singkat tapi jelas:

JOHN FERRIER,
MANTAN PENDUDUK SALT LAKE CITY
Meninggal tanggal 4 Agustus 1860

Petani tua yang tangguh, yang baru ditinggalkannya beberapa jam yang lalu, ternyata telah tewas dan ini nisannya. Dengan panik Hope mencaricari kalau kalau di sekitar situ ada makam kedua, tapi ia tak menemukannya. Lucy pasti telah dibawa kembali ke Salt Lake City untuk memenuhi "takdir" yang mereka tentukan, yaitu mengisi harem salah satu putra Tetua. Saat Hope menyadari kepastian nasib Lucy dan ketidakberdayaannya sendiri untuk mencegahnya, ia merasa ingin mati saja. Ia berharap dirinya juga tergeletak membisu bersama sang petani tua di tempat peristirahatannya.

Tapi, sekali lagi semangatnya yang aktif menyingkirkan keputusasaannya. Kalau tidak ada lagi yang tersisa baginya, paling tidak ia bisa mengabdikan hidupnya untuk membalas dendam. Selain kesabaran dan ketekunan yang tidak terpatahkan, Jefferson Hope juga memiliki sifat kejam, yang mungkin dipelajarinya dari para Indian. Saat berdiri di dekat api unggun, Hope merasa satusatunya yang bisa meredakan kedukaannya hanyalah pembalasan yang menyeluruh., dengan tangannya sendiri, atas musuh-musuhnya. Kemauannya yang keras dan energi-nya yang tidak ada habisnya harus digunakan untuk satu tujuan tersebut. Dengan wajah muram dan pucat ia kembali ke tempat ia menjatuhkan daging si Tanduk Besar lalu memasaknya. Setelah memiliki cukup bekal untuk beberapa hari, ia memaksa dirinya yang kelelahan untuk berjalan kembali melintasi pegunungan, mengikuti jejak para Malaikat Pembalas.

Selama lima hari ia berjalan kaki, melewati celah-celah sulit yang sebelumnya ditempuhnya dengan menunggang kuda. Luka-luka pada kaki-nya tak diacuhkannya, kcletihan yang menumpuk tak dihiraukannya. Pada malam hari ia membaringkan diri di sela-sela bebatuan dan tidur selama beberapa jam. Tapi sebelum fajar ia telah melanjutkan perjalanan. Pada hari keenam, ia tiba di Ngarai Elang, tempat mereka memulai pelarian mereka yang gagal. Dari sana ia bisa melihat rumah-rumah "orang suci". Karena kelelahan, Hope menyandar ke senapannya dan mengawasi kota yang membentang di bawahnya. Ada bendera yang dikibarkan di beberapa jalan utama, dan tandatanda kemeriahan lainnya. Ia masih menduga-duga apa artinya itu sewaktu mendengar derap kaki kuda, dan melihat seorang penunggang kuda tengah mendekatinya. Ia mengenali penunggang tersebut, seorang Mormon bcrnama Cowper yang pernah dibantunya beberapa kali. Oleh karena itu ia mendekati penunggang kuda tersebut, dengan tujuan mencari tahu bagaimana keadaan Lucy Ferrier.

"Aku Jefferson Hope," katanya. "Kau pasti ingat padaku."

Pria Mormon tersebut menatapnya dengan tertegun—memang, sulit untuk mengenali pengelana yang compang-camping, berwajah pucat dan buas, serta bermata liar itu. Tapi setelah yakin akan identitasnya, keterkejutan pria Mormon tersebut berubah menjadi kekhawatiran.

"Kau sinting berani datang kemari," serunya. "Jiwaku bisa terancam hanya karena bercakapcakap denganmu. Kau dicari oleh Empat Suci karena membantu keluarga Ferrier melarikan diri."

"Aku tidak takut pada mereka," kata Hope sejujurnya. "Kau pasti mengetahui sesuatu tentang masalah ini, Cowper. Demi segala yang kaucintai, kuminta kau menjawab pertanyaanku. Selama ini kita berteman. Demi Tuhan jangan menolak permintaanku."

"Apa yang ingin kautanyakan?" tanya Cowper gelisah. "Cepatlah. Mata dan telinga mereka ada di mana-mana."

"Apa yang terjadi pada Lucy Ferrier?"

"Dia menikah kemarin dengan Drebber muda. Kuatkan dirimu, Sobat, kuatkan dirimu. Kau tampak seperti orang sekarat."

"Jangan memikirkan diriku," kata Hope pelan. Wajahnya menjadi semakin pucat dan tubuhnya merosot ke batu tempat ia bersandar. "Sudah menikah, katamu?"

"Menikah kemarin... karena itu mereka mengibarkan bendera-bendera di Rumah Penyatuan. Sempat terjadi pertengkaran antara Drebber dan Stangerson muda tentang siapa yang berhak menikah dengannya. Mereka berdua termasuk kelompok yang mengejar Ferrier, dan Stangerson yang menembak ayah Lucy, sehingga tuntutannya lebih kuat. Tapi sewaktu berdebat di depan Dewan, kelompok Drebber lebih kuat, jadi Nabi memberikan Lucy kepadanya. Meskipun begitu, kurasa baik Drebber maupun Stangerson akhirnya akan kehilangan si gadis, karena aku sudah melihat kematian di wajahnya. Gadis itu lebih mirip hantu daripada wanita. Kau mau pergi sekarang?"

"Ya, aku pergi," kata Jefferson Hope yang telah bangkit berdiri. Wajahnya begitu keras dan kaku bagaikan patung marmer, matanya berkilat penuh murka. 

"Kau mau ke mana?"

"Tidak penting," jawab sang pengelana. Menyandang senapannya, ia melangkah ke sungai kering dan menghilang ke jantung pegunungan tempat hewan-hewan buas berkeliaran. Tapi pemburu yang diamuk dendam itu jauh lebih berbahaya daripada hewan buas.

Perkiraan Cowper tak meleset. Entah karena kematian ayahnya yang mengerikan, atau pengaruh pernikahan yang dibencinya, Lucy yang malang tidak pernah pulih lagi. Ia meninggal sebulan kemudian. Suaminya, yang menikahinya semata-mata demi harta John Ferrier, tidak menunjukkan kedukaan sedikit pun. Tapi para istri Drebber yang lain menangisinya, dan berjaga di sekitar jenazahnya sepanjang malam sebelum pemakaman, sebagaimana kebiasaan Mormon. Mereka tengah berkerumun bersama menjelang pagi sewaktu pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria muncul. Pria yang tampak buas dan lusuh itu langsung mendekati jenazah Lucy, tanpa melirik sedikit pun kepada para wanita yang membeku ketakutan. Sambil membungkuk pria itu mengecup kening Lucy yang clingin, lalu mengangkat tangannya dan melepaskan cincin kawin dari jarinya.

"Dia tidak akan dimakamkan dengan ini!" serunya sambil menyeringai buas. Sebelum tanda bahaya sempat dibunyikan, ia telah melesat ke tangga dan menghilang. Begitu aneh dan singkat kejadian tersebut, sehingga para wanita yang berjaga hampir-hampir tak percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi. Tapi cincin kawin yang hilang itu merupakan buktinya.

Selama beberapa bulan berikutnya Jefferson Hope berkeliaran di pegunungan, menjalani kehidupan yang aneh dan liar, mempertahankan keinginannya yang meluap-luap untuk membalas dendam. Isu-isu pun bermunculan di kota tentang kehadiran seseorang yang menghantui sungaisungai kering di pegunungan. Pernah sekali sebutir peluru menembus jendela rumah Stangerson dan menancap di dinding, hanya tiga puluh senti dari pemuda itu. Pada kesempatan lain, sewaktu Drebber tengah melintas di bawah tebing, sebongkah batu besar jatuh ke arahnya. Ia berhasil selamat hanya dengan melompat dari kuda dan berbaring rapat di tanah. Kedua pemuda Mormon tersebut tidak memerlukan waktu lama untuk mengetahui alasan usaha-usaha pembunuhan mereka ini. Mereka lalu memimpin ekspedisi-ekspedisi ke pegunungan untuk memusnahkan musuh mereka, tapi selalu tidak berhasil. Akhirnya mereka menerapkan tindakan berjaga-jaga dengan tidak pernah bepergian seorang diri di malam hari, dan melakukan pengawasan ketat terhadap kuda-kuda mereka. Setelah beberapa waktu berlalu dan tidak terjadi apa-apa, mereka mulai mengendurkan kewaspadaan. Mereka mengira waktu telah meredakan kemarahan musuh mereka.

Sebaliknya, waktu jusrru mengobarkan kebencian Hope. Sang pemburu bersifat keras, pantang menyerah, dan gagasan membalas dendam telah menguasai dirinya sepenuhnya sehingga tidak ada ruang untuk emosi-emosi lain. Tapi ia juga seorang yang praktis. Dengan cepat ia menyadari bahwa tekad bajanya pun takkan mampu mengatasi tekanan yang terus-menerus diterimanya. Kekhawatiran akan tertangkap dan kerinduan akan makanan yang layak telah menguras tenaganya. Kalau ia tewas seperti anjing di pegunungan, bagaimana dengan rencana pembalasannya? Kematian semacam itu akan menjemputnya jika ia bertahan di pegunungan, dan justru itu yang diinginkan musuh-musuhnya. Maka dengan enggan Hope pun kembali ke tambangtambang tua di Nevada, untuk memulihkan kesehatan dan mengumpulkan uang demi mengejar tujuannya.

Hope berniat untuk tinggal paling lama satu tahun di tambang, tapi karena berbagai situasi yang tak terduga, ia akhirnya baru dapat pergi dari situ setelah hampir lima tahun. Meskipun demikian, ingatannya akan musuh-musuhnya dan keinginannya untuk membalas dendam masih sejernih di malam ketika ia berdiri di dekat makam John Ferrier. Dengan menyamar dan menggunakan nama lain, ia kembali ke Salt Lake City, la tak peduli apa yang terjadi pada hidupnya sendiri, sepanjang ia mampu menegakkan keadilan. Namun di Tanah Orang Suci itu ia menemui hambatan lain. Beberapa bulan sebelumnya telah terjadi pemberontakan terhadap kewenangan para Tetua, dan sejumlah orang muda yang tidak puas akhirnya meninggalkan Utah serta kepercayaan Mormon mereka. Drebber dan Stangerson termasuk dalam kelompok itu, dan tak seorang pun tahu ke mana mereka pergi. Menurut kabar yang tersiar, Drebber berhasil menjual sebagian besar propertinya, dan ia melarikan diri sebagai orang kaya. Rekannya, Stangerson, relatif miskin. Tapi tidak ada petunjuk sama sekali tentang keberadaan mereka.

Kebanyakan orang, betapapun murkanya mereka, akan melupakan keinginan membalas dendam ketika menghadapi kesulitan seperti ini. Tapi Jefferson Hope tetap bergeming. Dengan sedikit harta yang dimilikinya, yang didapatnya dari pekerjaan apa pun yang bisa dilakukannya, ia berkelana dari satu kota ke kota yang lain di seluruh Amerika dalam usahanya melacak musuhmusuhnya. Tahun berganti tahun, rambut hitamnya mulai menjadi kelabu, tapi ia masih terus berkelana, bagai anjing pemburu, dengan tekad bulat untuk satu tujuan. Akhirnya ketekunannya terbayar. Hanya sebuah wajah yang sekilas terlihat di jendela, tapi kilasan tersebut memberitahunya bahwa orang-orang yang diburunya ada di Cleveland, Ohio. Ia kembali ke penginapannya yang kumuh dengan rencana pembalasan yang telah tersusun rapi. Tapi Drebber yang memandang ke luar jendela, mengenali "gelandangan" yang mengawasinya dengan penuh dendam itu. Ia bergegas menemui pihak berwenang dengan ditemani Stangerson yang telah menjadi sekretaris pribadinya, dan mengaku bahwa dirinya terancam bahaya akibat kecemburuan serta kebencian seorang pesaing lama. Malam itu juga Jefferson Hope ditangkap, dan karena tidak bisa memberikan jaminan, ia ditahan selama beberapa minggu. Pada saat ia akhirnya dibebaskan, Hope mendapati rumah Drebber telah kosong. Pria itu dan sekretarisnya telah berangkat ke Eropa.

Sekali lagi Hope menemui kegagalan, dan sekali lagi kebenciannya yang terpusat mendesaknya untuk melanjutkan pengejaran. Tapi ia memerlukan dana, dan selama beberapa waktu ia kembali bekerja, menabung setiap dolar yang diperolehnya untuk perjalanan yang akan dilakukannya. Akhirnya, setelah mengumpulkan cukup banyak uang untuk bertahan hidup, ia berangkat ke Eropa dan melacak musuh-musuhnya dari satu kota ke kota lain, tapi tidak pernah berhasil menyusul mereka. Sewaktu ia tiba di St. Petersburg, mereka baru saja berangkat ke Paris; dan sewaktu ia mengikuti mereka ke sana, mereka baru saja menuju Copenhagen. Di ibu kota Denmark itu kembali ia terlambat beberapa hari, karena mereka telah pergi ke London. Dengan gigih ia menyusul ke London, dan berhasil mendapatkan buruannya. Namun mengenai kejadian selengkapnya, sebaiknya kita mendengarkan penuturan sang pemburu sendiri seperti yang dicatat oleh Dr. Watson.


Salam Sherlockian.

Penelusuran Benang Merah - Bag II Bab IV - Pelarian

1. Penelusuran Benang Merah (Study in Scarlet)

1.2 Bagian II – Tanah Orang Suci


1.2.4 Bab IV – Pelarian

Sehari setelah percakapannya dengan Nabi Mormon, John Ferrier pergi ke Salt Lake City menemui tcmannya yang hendak menuju Pegunungan Nevada. Ia menitipkan pesan untuk Jefferson Hope, bahwa pemuda itu harus segera kembali karena mereka menghadapi masalah besar. Setelah melakukan hal itu Ferrier merasa bebannya berkurang, dan ia pulang dengan hati lebih gembira.

Saat mendekati tanah pertaniannya, ia terkejut melihat ada kuda-kuda yang diikat ke kedua tiang gerbangnya. Ia lebih terkejut lagi sewaktu memasuki rumah dan melihat dua orang pemuda berada di ruang duduknya. Pemuda yang berwajah panjang dan pucat duduk santai di kursi goyang dengan kaki diangkat ke atas tungku. Temannya, pemuda berleher tebal dan berwajah tembam, berdiri di depan jendela dengan tangan di saku sambil menyiulkan himne yang populer. Keduanya mengangguk kepada Ferrier saat ia masuk, dan pemuda di kursi goyang memulai pembicaraan.

"Mungkin kau tidak mengenal kami," ujarnya. "Ini putra Tetua Drebber, dan aku Joseph Stangerson yang menjelajahi padang pasir bersamamu sewaktu Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan mengumpulkanmu dengan kawanan domba-Nya yang sejati."

"Sebagaimana akan dilakukan-Nya terhadap seluruh bangsa pada waktu-Nya nanti," timpal pemuda yang satu lagi dengan suara sumbang. "Ia bekerja perlahan-lahan tapi pasti."

John Ferrier membungkuk dengan dingin. Ia telah menebak siapa kedua tamu itu.

"Kami datang," lanjut Stangerson, "sesuai saran ayah-ayah kami untuk memberi putrimu kesempatan memilih. Karena aku hanya memiliki empat istri sementara Saudara Drebber sudah punya tujuh, kurasa aku yang lebih berhak mendapatkan putrimu."

"Tidak, tidak, Saudara Stangerson," seru Drebber. "Persoalannya bukanlah berapa istri yang kita miliki, tapi berapa yang bisa kita hidupi. Ayahku sudah menyerahkan penggilingannya kepadaku, dan aku lebih kaya darimu."

"Tapi prospekku lebih baik," tukas Stangerson panas. "Pada saat Tuhan mengambil ayahku, aku akan mendapatkan penyamakan kulit serta pabriknya. Lagi pula aku tetuamu, kedudukanku di Gereja lebih tinggi."

"Keputusan ada di tangan gadis itu" kata Drebber sambil menyeringai pada pantulannya sendiri di kaca. "Kita akan mematuhi keputusannya."

Sepanjang percakapan tersebut John Ferrier berdiri diam di ambang pintu. Dengan susah payah ia menahan amarah yang hampir saja mendorongnya untuk menghajar kedua tamu itu dengan cambuk.

"Dengar," katanya pada akhirnya, melangkah mendekat, "pada saat putriku memanggil kalian, kalian boleh datang. Tapi sebelum itu, aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi."

Kedua pemuda Mormon tersebut tertegun menatap Ferrier. Menurut pandangan mereka, kompetisi di antara mereka berdua untuk mendapatkan Lucy merupakan penghormatan tertinggi bagi gadis itu maupun ayahnya.

"Ada dua jalan keluar dari ruangan ini!" seru Ferrier. "Ada pintu dan ada jendela! Kalian ingin menggunakan yang mana?"

Wajah Ferrier tampak begitu buas dan tangannya begitu mengancam sehingga kedua tamunya langsung melompat bangkit. Mereka bergegas keluar, diikuti Ferrier sampai ke pintu.

"Jadi kalian memilih pintu, ya!" katanya sinis.

"Kau harus membayar untuk ini, Ferrier!" teriak Stangerson berang. "Kau sudah menentang Nabi dan Dewan Empat! Kau akan menyesalinya sampai akhir hayat!"

"Tangan Tuhan akan menghukum kalian!" tambah Drebber. "Ia akan bangkit dan mehajarmu!"

"Kalau begitu, biar aku yang mulai menghajar!" seru Ferrier murka. Ia sudah beranjak ke lantai atas untuk mengambil senapannya, namun Lucy mencengkeram lengannya dan menahannya. Sebelum Ferrier bisa melepaskan diri dari putrinya, terdengar derap kaki kuda, menandakan bahwa kedua pemuda itu telah berada di luar jangkauannya.

"Keparat! Bajingan!" Ferrier menyumpah-nyumpah. "Lebih baik aku melihatmu mati, anakku, daripada kau menjadi istri salah satu dari mereka."

"Aku juga berpikir begitu, Ayah," jawab Lucy penuh semangat. "Tapi Jefferson akan segera tiba."

"Ya. Tidak lama lagi dia pasti tiba. Semakin cepat semakin baik, karena kita tidak tahu apa tindakan mereka selanjutnya."

Memang, sudah saatnya seseorang yang cakap dan andal datang memberikan bantuan kepada sang petani tua dan putri angkatnya. Sepanjang sejarah permukiman Mormon itu, belum pernah ada orang yang berani terang-terangan menentang para Tetua seperti yang dilakukan John Ferrier. Kalau kesalahan kecil saja dihukum sekeras itu, bagaimana nasib pemberontakan sehebat ini? Ferrier sadar bahwa kekayaan dan posisinya takkan dapat menolongnya. Orang-orang lain yang sama terkenal dan sekaya dirinya pun telah dilenyapkan, sementara harta mereka diberikan kepada Gereja. Ferrier bukan penakut, tapi kali ini ia gemetar menghadapi teror yang mengintai dirinya. Bahaya apa pun bisa dihadapinya dengan berani, tapi ketegangan yang mencekam ini benar-benar menggetarkan perasaan Ferrier itu tak luput dari pengamatan putrinya, meski ia telah berusaha menutup-nutupinya.

Ferrier menduga akan menerima pesan atau teguran dari Young karena perbuatannya, dan ia tidak keliru, sekalipun penyampaian pesan tersebut dilakukan dengan cara yang sangat tidak biasa. Saat terjaga keesokan harinya, ia mendapati sehelai kertas kecil dijepitkan ke selimutnya tepat di atas dadanya. Pada kertas itu tertulis sebuah kalimat dengan huruf-huruf besar dan mencolok, 

"Kau mendapat waktu 29 hari untuk bertobat, sesudah itu..."

Titik-titik di akhir kalimatnya lebih menimbulkan ketakutan daripada ancaman apa pun. Selain itu, Ferrier tak bisa mengerti bagaimana peringatan ini bisa sampai ke kamar tidurnya. Para pelayan tidur di bangunan lain di luar rumah, dan pintu-pintu serta jendela-jendela telah dikunci. Ferrier meremas kertas itu dan tidak mengatakan apa-apa kepada putrinya, walau perasaannya sendiri kian galau. Dua puluh sembilan hari... dengan kekuatan serta keberanian dari mana ia harus menghadapi musuh yang demikan misterius? Tangan yang meletakkan kertas pesan itu bisa saja menusuk jantungnya, dan ia tidak akan pernah tahu apa yang telah membunuhnya.

Pagi berikutnya, terjadi peristiwa yang lebih mengguncangkan. Ferrier dan putrinya sedang duduk menikmati sarapan ketika Lucy tiba-tiba menjerit sambil menunjuk ke atas. Di tengah langitlangit tertulis, tampaknya dengan tongkat kayu yang dibakar, angka 28. Lucy tidak mengerti makna tulisan itu, dan Ferrier tidak bisa menjelaskan. Malam harinya ia duduk berjaga dengan membawa senapannya. Ia tidak melihat atau mendengar apa pun, tapi keesokan harinya, angka 27 telah dicatkan besar-besar di pintu rumahnya.

Pada hari-hari selanjutnya Ferrier mendapati bagaimana musuh yang tidak kasatmata itu terus menghitung, dan menandai jumlah hari-hari yang tersisa di berbagai tempat yang mencolok. Terkadang angka tersebut muncul di dinding, terkadang di lantai, sesekali berupa plakat kecil yang ditempelkan di gerbang kebun atau pagar.

Sekalipun telah berusaha keras, Ferrier tidak pernah bisa menangkap basah pemberi pesan itu. Kengerian yang luar biasa mencekamnya setiap kali ia melihat angka itu. Sepertinya musuh yang dihadapinya tak terdiri atas darah dan daging. Ferrier menjadi berantakan dan gelisah bagaikan binatang yang sedang diburu. Ia hanya memiliki satu harapan sekarang, yaitu kedatangan sang pemburu muda dari Nevada.

Dua puluh menjadi lima belas, dan lima belas menjadi sepuluh, namun tidak ada berita dari pemuda tersebut. Satu demi satu angka-angkanya mengecil, tapi tidak terlihat tanda-tanda kehadiran Hope. Setiap kali terdengar suara penunggang kuda di jalan, atau kusir yang berteriak kepada kudakudanya, Ferrier bergegas ke gerbang, mengira bantuan akhirnya datang. Sewaktu angka lima berubah menjadi empat, lalu tiga, Ferrier pun putus asa. Ia melupakan semua harapannya untuk melarikan diri. Ferrier sadar tanpa bantuan ia tak mungkin berhasil. Pengetahuannya mengenai pegunungan yang mengelilingi kawasan tersebut terbatas; jalan yang sering dilalui selalu dijaga ketat, tak seorang pun boleh lewat tanpa perintah Dewan. Ke arah mana pun ia pergi, tampaknya tidak mungkin ia bisa menghindari bencana ini. Sekali pun begitu, tekad sang petani tua tetap tak tergoyahkan. Ia lebih baik mati daripada menyaksikan putrinya dilecehkan.

Suatu malam Ferrier duduk seorang diri, mempertimbangkan masalahnya secara mendalam dan mencari-cari jalan keluar. Tadi pagi angka 2 ada di dinding rumahnya, dan besok merupakan hari terakhirnya. Apa yang akan terjadi sesudah itu? Segala bayangan yang menakutkan melintas dalam benaknya. Dan putrinya... bagaimana nasib gadis itu setelah ia tiada? Tak adakah jalan keluar dari jaring-jaring maut yang ditebarkan di sekeliling mereka? Ferrier meletakkan kepalanya di mcja dan terisak-isak, menyesali ketidakberdayaannya.

Apa itu? Dalam kesunyian ia mendengar goresan lembut—pelan tapi sangat jelas di malam yang sunyi. Suara itu berasal dari pintu depan rumah. Ferrier merayap ke lorong dan menajamkan telinga. Sejenak hanya ada kesunyian, lalu suara itu terdengar kembali. Jelas ada yang mengetuk salah satu panel pintu dengan pelan. Apakah pembunuh tengah malam yang datang untuk melaksanakan perintah pengadilan rahasia? Atau orang yang bertugas menandai hari terakhirnya? John Ferrier merasa kematian secara langsung akan lebih baik daripada ketegangan yang mengguncang saraf serta menggetarkan hatinya. Dengan nekat ia melompat maju, menarik selot, lalu membuka pintu.

Di luar suasananya tenang dan sepi. Malam berlangsung biasa, bintang-bintang bekerlip di atas kepala. Kebun depan yang kecil membentang di depan matanya, dibatasi pagar dan gerbang, tapi tidak terlihat seorang manusia pun baik di sana maupun di jalan di baliknya. Sambil mengembuskan napas lega, Ferrier memandarig ke kiri-kanan, hingga tanpa sengaja melirik tepat ke kakinya sendiri. Ia tertegun melihat seorang pria berbaring menelungkup, dengan lengan dan kaki terpentang.

Begitu takutnya ia melihat pemandangan tersebut sehingga ia menyandar ke dinding dengan tangan mencengkeram leher untuk mencegah teriakannya sendiri. Pikiran pertama yang melintas di benaknya adalah bahwa sosok tersebut seseorang yang terluka atau sekarat. Tapi saat mengawasinya, ia melihat sosok itu menggeliat-geliat di tanah dan masuk ke dalam rumah dengan kecepatan dan kebisuan seekor ular. Begitu berada di dalam; sosok itu melompat bangkit, menutup pintu, dan menunjukkan wajahnya yang keras serta ekspresinya yang tegas. Jefferson Hope!

"Ya Tuhan!" John Ferrier ternganga. "Kau membuatku ketakutan! Kenapa kau datang dengan cara begitu?"

"Beri aku makanan," kata pemuda itu dengan suara serak. "Aku tidak sempat makan selama 48 jam." Melihat daging dingin dan roti yang masih ada di meja, sisa makan malam tuan rumahnya, ia segera melahapnya. "Lucy baik-baik saja?" tanyanya setelah memuaskan laparnya.

"Ya. Dia tidak tahu bahaya yang kami hadapi," jawab Ferrier.

"Bagus. Rumah ini diawasi dari segala sisi. Itu sebabnya aku harus merayap kemari. Mereka mungkin pandai, tapi tidak cukup pandai untuk menangkap pemburu Washoe."

John Ferrier merasa menjadi orang yang berbeda sekarang, karena ia memiliki sekutu yang setia. Diraihnya tangan kasar sang pemuda dan dijabatnya kuat-kuat. "Kau benar-benar membanggakan," ujarnya terharu. "Tak banyak orang yang bersedia datang untuk ikut menanggung masalah kami dan menghadapi bahaya."

"Kata-katamu ada benarnya," kata sang pemburu muda. "Aku sangat menghormatimu, tapi kalau masalah ini hanya menyangkut dirimu, aku akan berpikir dua kali sebelum menerjunkan diri ke dalam bahaya seperti ini. Aku kemari karena Lucy. Lebih baik keluarga Hope berkurang satu daripada kubiarkan gadis itu disakiti."

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Besok hari terakhirmu, dan kecuali kau bertindak malam ini, kalian akan kalah. Aku sudah menyiapkan seekor keledai dan dua ekor kuda di Ngarai Elang. Berapa banyak uangmu?"

"Dua ribu dolar dalam bentuk emas, dan lima ribu tunai."

"Itu cukup. Aku sendiri bisa menambahkan kurang-lebih sebanyak itu. Kita harus bergegas ke Carson City melewati pegunungan. Sebaiknya kaubangunkan Lucy. Bagus juga para pelayan tidak tidur di dalam rumah."

Sementara Ferrier menyiapkan putrinya untuk perjalanan yang akan mereka tempuh, Jefferson Hope mengemasi semua makanan yang bisa ditemukannya dan mengisi sebuah guci batu dengan air. Dari pengalaman ia tahu bahwa sumber air di pegunungan sangat sedikit serta berjauhan jaraknya. Hope belum lagi menyelesaikan pcrsiapannya sewaktu Ferrier kembali bersama putrinya. Pertemuan sepasang kekasih itu berlangsung hangat tapi singkat, karena waktu sangat berharga sedangkan masih banyak yang harus dilakukan.

"Kita harus pergi sekarang juga," kata Hope, berbicara pelan tapi tegas, sebagaimana layaknya orang yang menyadari beratnya masalah namun telah mcmbulatkan tekad untuk menghadapinya. "Pintu masuk depan dan belakang diawasi, tapi kalau hati-hati kita bisa melarikan diri melalui jendela samping dan menyeberangi ladang. Begitu tiba di jalan kita tinggal tiga kilometer dari ngarai, tempat kuda-kuda sudah menunggu. Saat fajar tiba, kita sudah separo perjalanan di pegunungan."

"Bagaimana kalau ada orang yang menghalangi kita?" tanya Ferrier.

Hope menampar tangkai revolver yang mencuat dari bagian depan rompinya. "Kalau mereka terlalu banyak, setidaknya kita bisa menjatuhkan dua-tiga orang," katanya tersenyum sinis.

Semua lampu di dalam rumah telah dipadamkan, dan dari jendela yang gelap Ferrier mengintip ke ladang-ladang yang sebentar lagi akan ditinggalkannya untuk selama-lamanya. Ia telah lama memberanikan diri unruk melakukan pengorbanan ini, dan pikiran tentang kehormatan serta kebahagiaan putrinya mengalahkan penyesalan apa pun tentang hilangnya harta. Suasana di luar tampak begitu tenang dan damai, sehingga orang sulit percaya bahwa ada pembunuh yang mengintai di sana. Sekalipun begitu, wajah pucat dan tegang Jefferson Hope menunjukkan bahwa ia telah melihat cukup banyak bahaya sewaktu mendekati rumah tadi.

Ferrier membawa tas berisi emas dan uang, Hope membawa makanan dan air, sementara Lucy membawa buntalan kecil berisi beberapa barangnya yang berharga. Setelah membuka jendela dengan sangat pelan dan hati-hati, mereka menunggu hingga awan gelap menutupi pandangan, lalu satu demi satu menerobos keluar ke kebun kecil. Sambil menahan napas mereka merunduk menyeberanginya, kemudian menyusuri sesemakan hingga tiba di celah yang menuju ladang jagung. Mereka baru saja tiba di tempat ini sewaktu sang pemuda mencengkeram kedua rekannya dan menyeret mereka ke dalam bayang-bayang. Di tempat gelap itu mereka berbaring dengan membisu dan gemetar.

Beruntung pengalamannya di padang rumput telah memberi Jefferson Hope telinga seekor kucing liar. Ia dan kedua rekannya baru saja berbaring sewaktu terdengar lolongan burung hantu hanya beberapa meter dari mereka. Lolongan iru segera dijawab dengan lolongan Iain tidak jauh dari sana. Pada saat yang sama sosok samar muncul dari celah yang tadinya akan mereka lalui, dan melontarkan sinyal sekali lagi. Orang kedua muncul.

"Tengah malam besok," kata orang pertama, yang tampaknya lebih tinggi jabatannya. "Saat burung whippoorwill berbunyi tiga kali."

"Baik," kata rekannya. "Saudara Drebber perlu kuberitahu?"

"Beritahukan, dan minta dia memberitahu yang lain. Sembilan ke tujuh!"

"Tujuh ke lima!" sahut orang tersebut, dan kedua sosok itu menyelinap ke arah yang berlainan. Kata-kata terakhir mereka jelas semacam sandi. Begitu bunyi langkah-langkah kaki mereka telah menghilang di kejauhan, Hope melompat bangkit. Ia membantu Ferrier dan putrinya melewati celah, lalu memimpin jalan melintasi ladang secepat mungkin, setengah menggendong Lucy saat kekuatan sang gadis tampak merosot.

"Cepat! Gepat!" katanya terus-menerus. "Kita berhasil melewati barisan penjaga. Segalanya sekarang tergantung pada kecepatan. Cepat!"

Begitu tiba di jalan, mereka mencapai kemajuan dengan cepat. Hanya sekali mereka bertemu orang, dan mereka berhasil menyelinap ke ladang sebelum sempat dikenali. Beberapa saat sebelum tiba di kota,

 
Hope mengajak mereka berbelok ke sebuah jalan setapak yang menuju pegunungan. Dua puncak yang gelap dan bergerigi menjulang di atas mereka, dan celah di antara kedua puncak tersebut adalah Ngarai Elang. Dengan naluri yang luar biasa, Hope memimpin jalan di sela-sela bongkahan batu besar dan sepanjang sungai kering, hingga mereka tiba di sudut yang terhalang bebatuan. Di sana keledai serta kuda-kuda mereka telah menunggu. Lucy dinaikkan ke keledai, Hope dan Ferrier menunggang kuda, lalu mereka memulai perjalanan melewati jalur yang berliku-liku dan berbahaya.

Rute yang dipilih Hope sangat membingungkan bagi mereka yang tidak terbiasa menghadapi alam liar, Di satu sisi tebing curam menjulang setinggi lebih dari tiga ratus meter— hitam, tegas, dan mengancam. Di sisi lain terdapat tumpukan bebatuan besar-kecil yang tidak mungkin dilalui.

Jalan setapak yang mereka susuri begitu sempit di beberapa tempat, sehingga mereka harus berjalan beriringan, dan begitu sulit sehingga hanya penunggang kuda berpengalaman yang mampu melintasinya. Meskipun mereka harus menempuh semua bahaya serta kesulitan itu, perasaan ketiga pelarian tersebut sangat ringan, karena setiap langkah berarti memperlebar jarak di antara mereka dan bencana.

Namun, tak lama kemudian mereka mendapat bukti bahwa mereka masih berada di Tanah Orang Suci. Mereka telah tiba di kawasan yang paling liar dan terkucil dari celah tersebut sewaktu Lucy menjerit terkejut, dan menunjuk ke atas. Di atas sebuah batu, berdiri seorang penjaga yang sedang mengawasi mereka.

"Siapa itu?" teriak sang penjaga.

"Pengelana dengan tujuan Nevada," jawab Jefferson Hope, tangannya siap mengambil senapan yang menjuntai di pelana.

Sang penjaga membidikkan senapannya dan menatap mereka tajam-tajam, seakan-akan tidak puas dengan jawaban Hope.

"Atas izin siapa?" tanyanya lagi.

"Empat Suci," jawab Ferrier. Pengalamannya hidup sebagai orang Mormon telah mengajarkannya bahwa itulah kewenangan tertinggi yang bisa diucapkannya.

"Sembilan ke tujuh," seru penjaga tersebut.

"Tujuh ke lima," balas Hope seketika, teringat sandi yang didengarnya di kebun.

"Pergilah, dan Tuhan bersama kalian," kata sosok di atas batu itu. Setelah pos penjagaan terakhir tersebut jalan setapak melebar, dan kuda-kuda dapar berlari kecil. Sesaat ketiga pelarian itu menoleh ke belakang dan melihat sang penjaga tengah bersandar pada senapannya. Mereka sangat lega karena telah berhasil keluar dari negeri "orang-orang pilihan" dan bahwa ke-bebasan membentang di hadapan mereka.


Salam Sherlockian.

Penelusuran Benang Merah - Bag II Bab III - Titah Sang Nabi

1. Penelusuran Benang Merah (Study in Scarlet)

1.2 Bagian II – Tanah Orang Suci


1.2.3 Bab III – Titah Sang Nabi

Tiga minggu berlalu sejak Jefferson Hope dan teman-temannya pergi dari Salt Lake City. John Ferrier merasa cemas menantikan kepulangan pemuda itu dan memikirkan ia akan kehilangan putri angkatnya. Sekalipun begitu, wajah putrinya yang cerah dan bahagia membuat Ferrier yakin bahwa keputusannya tidak keliru. Selama ini ia memang telah membulatkan tekad untuk tidak mengizinkan putrinya menikah dengan seorang Mormon. Menurutnya pernikahan seperti itu sama sekali bukan pernikahan, melainkan hubungan yang hina dan memalukan. Meskipun doktrindoktrin Mormon yang lain dapat diterimanya, untuk satu hal ini ia benar-benar tak bisa bertoleransi. Tapi tentu saja ia cukup bijak untuk menutup mulutnya rapat-rapat, karena menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan kepercayaan mereka merupakan tindakan yang berbahaya pada hari-hari itu di Tanah Orang Suci. Ya, tindakan yang berbahaya—begitu berbahaya sehingga mereka yang paling saleh pun hanya berani membisikkan pendapat-pendapat mereka dengan napas tertahan. Semua orang merasa cemas kalau-kalau ada ucapan mereka yang disalahtafsirkan, dan menimbulkan pembalasan seketika terhadap mereka. Umat korban penganiayaan yang telah mengembara sekian lama sebelum sampai ke Tanah Orang Suci ini sekarang telah berubah menjadi penganiaya—penganiaya yang luar biasa kejam. Inquisition Seville, Vehmgericht Jerman, ataupun Mafia Italia tak mampu menandingi kekejaman organisasi rahasia yang saat itu beroperasi di Utah.

Kemisteriusannya menyebabkan organisasi ini semakin menakutkan. Mereka tampaknya mahatahu dan mahakuasa, tapi sebaliknya, tak seorang pun pernah melihat mereka atau menyaksikan mereka beraksi. Yang jelas, orang yangi menentang Gereja bisa tiba-tiba saja menghilang, tak ada yang tahu bagaimana nasibnya atau apakah ia telah meninggal. Istri dan anakanak menunggu di rumah, namun sang ayah tidak pernah pulang untuk menceritakan bagaimana ia menghadapi para juri rahasianya. Kata-kata yang dilontarkan tanpa pikir atau tindakan yang ceroboh selalu mendatangkan akibat mengerikan. Tak heran kalau orang-orang menjalani kehidupan dengan ketakutan dan gcmetar.

Mula-mula, kekuatan yang samar dan menakutkan ini hanya diterapkan kepada mereka yang setelah memeluk kepercayaan Mormon, berharap untuk meninggalkannya. Tapi tak lama kemudian, jangkauan mereka meluas. Jumlah wanita dewasa sangat sedikit, dan poligami tanpa ada populasi wanita untuk diambil sebagai istri tentu saja merupakan doktrin yang kosong. Isu-isu aneh pun mulai beredar—isu-isu tentang para imigran yang tewas terbunuh dan penyerangan terhadap perkemahan-perkemahan di daerah yang tidak ada orang Indian-nya. Wanita-wanita baru bermunculan di rumah para Tetua—wanita-wanita yang tertekan dan menangis, ekspresi mereka memancarkan kengerian yang telah mereka alami. Para pengelana di pegunungan pun membicarakan kelompok-kelompok bersenjata dan bertopeng yang tanpa suara melewati mereka dalam kegelapan. Kisah-kisah dan isu-isu ini akhirnya mulai menampakkan bentuknya, dan mendapat dukungan serta dukungan lagi, hingga akhirnya tersusun nama yang spesifik. Hingga hari ini, di peternakan-peternakan terpencil di Barat, nama Kelompok Danite, atau Malaikat Pembalas, masih merupakan nama yang ditakuti.

Pengetahuan yang lebih mendalam mengenai organisasi yang menimbulkan hasil semengerikan itu justru meningkatkan kengerian dalam benak masyarakat. Tak seorang pun tahu siapa anggota-anggota kelompok brutal ini. Nama-nama orang yang terlibat dalam kekerasan yang dilakukan atas nama agama tersebut dirahasiakan rapat-rapat. Teman tempat kau mencurahkan isi hati dan menyatakan ketidakpuasanmu terhadap Nabi serta misinya, mungkin merupakan salah satu dari mereka yang mendatangimu di malam hari dengan membawa api dan pedang. Oleh karena itu, setiap orang takut kepada orang-orang yang terdekat dengannya, dan mereka tidak pernah lagi berbicara dengan bebas.

Suatu pagi yang cerah John Ferrier hendak menuju ke ladang gandumnya, sewaktu ia mendengar derak selot pintu gerbang. Dari jendela dilihatnya seorang pria parobaya bertubuh pendek kekar dan berambut pirang pasir tengah melangkah di jalan masuk. Jantung Ferrier bagai melonjak ke mulutnya, karena orang tersebut tidak lain adalah Brigham Young sendiri. Dengan ketakutan—karena ia tahu kunjungan seperti itu pasti mengandung niat tertentu—Ferrier berlari ke pintu untuk menyambut pemimpin Mormon tersebut. Tapi Young menerima sambutannya dengan dingin, dan mengikutinya ke ruang duduk dengan ekspresi kaku.

"Saudara Ferrier," kata sang Nabi sambil duduk, dan menatap petani itu dengan tajam. "Kami orang-orang Mormon sejati telah menjadi teman-teman yang baik bagimu. Kami memungutmu sewaktu kau kelaparan di padang gurun, kami berbagi makanan dengan dirimu, mengajakmu hingga tiba dengan selamat di Lembah Pilihan, memberimu bagian lahan yang bagus, dan mengizinkanmu mengumpulkan kekayaan di bawah perlindungan kami. Benar begitu?"

"Benar," jawab John Ferrier

"Sebagai balasan untuk semua ini kami hanya menuntut satu hal darimu, yaitu kau harus memeluk keyakinan kami, dan mematuhi setiap peraturannya dalam segala hal. Kau berjanji untuk melakukannya, dan ini, kalau laporan yang kudengar benar, sudah kaulanggar."

"Bagaimana aku melanggarnya?" tanya Ferrier, melontarkan tangan dengan sikap jengkel. "Apa aku tidak menyumbang dana bersama? Apa aku tidak datang ke gereja? Apa aku tidak...?"

"Mana istri-istrimu?" tanya Young sambil memandang sekitarnya. "Panggil mereka kemari, agar aku bisa menyapa mereka."

"Memang benar aku tidak menikah," kilah Ferrier. "Tapi wanita di sini sangat sedikit, dan banyak yang lebih pantas mendapatkan mereka daripada diriku. Aku tidak kesepian; ada putriku yang memenuhi semua kebutuhanku."

"Memang benar aku tidak menikah," kilah Ferrier. "Tapi wanita di sini sangat sedikit, dan banyak yang lebih pantas mendapatkan mereka daripada diriku. Aku tidak kesepian; ada putriku yang memenuhi semua kebutuhanku."

"Justru masalah putrimulah yang ingin kubicarakan denganmu," kata sang Nabi. "Dia telah tumbuh menjadi bunga Utah, dan menarik perhatian banyak petinggi di tanah ini."

Diam-diam John Ferrier mengerang.

"Ada cerita-cerita tentang dirinya yang tidak ingin kupercayai—bahwa dia sudah bertunangan dengan orang kafir. Ini pasti gosip orang-orang usil. Apa peraturan ketiga belas Nabi Joseph Smith? Agar setiap wanita yang beriman menikah dengan sesama orang percaya; karena bila ia menikah dengan orang kafir,' ia melakukan dosa besar.' Karena itu, mustahil dirimu yang sudah mengakui iman suci akan membiarkan putrimu melakukan pelanggaran seperti itu."

John Ferrier tidak menjawab. Dengan gugup ia mempermainkan cambuk berkudanya.

"Seluruh kepercayaanmu akan diuji dari satu hal ini—demikian keputusan Dewan Empat Suci. Gadis itu masih muda, dan kami tidak mengizinkannya menikah dengan orang kafir, tapi kami juga bukan tidak memberinya pilihan. Kami para Tetua memiliki banyak istri, namun anak-anak kami juga harus dipenuhi kebutuhannya. Stangerson memiliki putra, begitu pula Drebber, dan keduanya bersedia menerima putrimu di rumah mereka. Biar putrimu memilih salah satu dari keduanya. Mereka masih muda dan kaya, iman mereka tak perlu diragukan lagi. Nah, bagaimana pendapatmu?"

Ferrier terdiam, alisnya berkerut.

"Kalian harus memberi kami waktu," katanya akhirnya. "Putriku masih sangat muda... usianya belum cukup untuk menikah."

"Dia mendapat waktu satu bulan untuk memilih," kata Young sambil berdiri. "Dia harus memberikan jawabannya pada akhir batas waktu itu."

Young mulai berjalan ke luar. Ketika melewati pintu, ia tiba-tiba berbalik dengan wajah merah membara dan mata berkilat-kilat menyeramkan. "John Ferrier," katanya dengan suara mengguntur, "jika sekarang kau dan putrimu hanyalah tulang-belulang yang berserakan di Sierra Blanco, nasib kalian masih lebih baik daripada jika kalian berusaha menentang perintah Empat Suci!"

Dengan isyarat tangan yang mengancam, sang Nabi berbalik kembali dan meneruskan langkahnya di sepanjang jalan setapak.

John Ferrier duduk termangu, menimbang-nimbang bagaimana ia harus memberitahu putrinya. Tiba-tiba, sebuah tangan halus menyentuh tangannya, dan tampak olehnya Lucy berdiri di sampingnya. Begitu melihat wajah gadis itu yang pucat dan ketakutan, John Ferrier pun mengerti bahwa putrinya telah mendengar percakapan mereka.

"Aku bukan sengaja menguping," kata Lucy, membalas tatapan ayahnya. "Suara orang itu menggema ke seluruh rumah. Oh, Ayah, Ayah, apa yang harus kita lakukan?"

"Jangan takut," jawab Ferrier, diraihnya putrinya dan dieluselusnya rambut kecokelatan Lucy dengan tangannya yang besar dan kasar. "Akan kita bereskan dengan satu atau lain cara. Perasaanmu terhadap bocah itu tidak berkurang, bukan?"

Lucy hanya mampu menjawab dengan isak tangis dan remasan tangan.

"Tidak, tentu saja tidak," Ferrier menyimpulkan. "Aku senang perasaanmu tidak berubah. Dia pemuda yang baik dan seorang Kristen. Menurutku itu lebih beriman daripada orang-orang di sini, tak peduli bagaimanapun hebatnya semua doa dan khotbah mereka. Besok ada rombongan menuju Nevada... aku akan berusaha mengirim pesan kepadanya untuk memberitahukan masalah yang kita hadapi. Jika dia pemuda seperti yang kubayangkan, dia pasti akan kembali lebih cepat dari elektrotelegram."

Lucy tertawa sambil menangis mendengar ucapan ayahnya.

"Sesudah dia datang, aku yakin dia akan memberitahukan tindakan terbaik yang bisa kita lakukan. Tapi aku mengkhawatirkanmu, Ayah. Kita sering mendengar kisah-kisah menakutkan tentang mereka yang menentang Nabi..."

"Tapi kita belum menentangnya," tukas Ferrier. "Masih ada waktu satu bulan, dan pada saat waktunya berakhir, kita sudah jauh meninggalkan Utah."

"Meninggalkan Utah!"

"Sebaiknya begitu."

"Tapi bagaimana dengan pertanian ini?"

"Kita akan mengumpulkan uang sebanyak mungkin, dan meninggalkan apa yang tak dapat kita bawa. Sejujurnya, Lucy, ini bukan pertama kali aku mempertimbangkan hal ini. Aku tidak sudi bertekuk lutut di hadapan siapa pun, sebagaimana yang dilakukan orang-orang di sini terhadap nabi terkutuk mereka. Aku warga Amerika yang bebas, dan semua ini baru bagiku. Kurasa aku sudah terlalu tua untuk belajar. Kalau Young datang menyelidiki tanah pertanian ini, kemungkinan dia akan disambut oleh serentetan peluru."

"Tapi mereka tidak akan membiarkan kita pergi," kata Lucy.

"Tunggu sampai Jefferson tiba, kita akan mengatasi masalah itu. Sementara ini, sayangku, cobalah untuk tidak terlalu khawatir, jangan sampai matamu bengkak. Jefferson pasti takkan senang kalau melihatmu begitu. Tidak ada yang perlu ditakutkan, Nak, tidak ada bahaya sama sekali."

John Ferrier mengucapkan kata-kata hiburan tersebut dengan nada sangat yakin, tapi Lucy melihat bagaimana ayahnya mengunci pintu-pintu dengan lebih teliti malam itu. Ayahnya juga dengan hati-hati membersihkan senapan tua yang tergantung di dinding kamar tidurnya dan mengisi pelurunya.


Salam Sherlockian.